Awal perkenalanku dengan skoliosis
“Chi,
kok pundaknya miring sebelah deh?”. Itulah kata-kata yang terlontar dari bibir
seorang gadis remaja yang tak lain adalah kakak sepupuku sendiri. Kata-kata itu secara spontan keluar dari mulutnya ketika ia melihat ada perbedaan yang
menonjol pada pundakku pada saat aku sedang bermain dengannya dan juga adik ku
beserta sepupu2ku yang lainnya. Setelah mendengar pertanyaan sepupuku itu, aku
pun kaget dan gak percaya. Dalam hati aku pun bertanya “masa sih?”. Sontak aku
pun langsung bilang pada ibu. Karena ibuku tak tahu harus berbuat apa, akhirnya
ibu menyuruhku untuk bilang pada amih (tante) ku. Setelah bilang amih, akhirnya
amih berinisiatif untuk membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa apa yang
sebenarnya terjadi pada tubuhku.
Selang
beberapa hari, aku dan amih berkunjung ke rumah sakit Fatmawati untuk melakukan
kontrol. Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya namaku dipanggil juga untuk
segera masuk ke ruang dokter. Didalam ruangan itu, sudah ada dokter yang sudah
siap memeriksaku. Karena dokter yang memeriksaku lumayan ganteng & baik
banget, yang tadinya aku takut masuk ruangan itu, tiba-tiba rasa takutku jadi
hilang deh. Hehee.. Setelah amih menceritakan apa yang terjadi padaku, kemudian
dokter langsung menyuruhku berdiri dan membungkuk untuk memeriksa punggungku.
Kemudian dokter pun langsung memeriksa punggungku menggunakan sebuat alat yang
aku pun tak tahu apa nama alat itu. Setelah dilakukan pemeriksaan, akhirnya
dokter mendiagnosaku bahwa terdapat kelainan pada tulang belakangku. Dokter
bilang tulang belakangku miring kesamping. Pada saat dokter bicara seperti itu,
aku kaget setengah mati, jantungku serasa mau copot. Pada saat itu usiaku masih
sangat belia, yaitu masih berumur 13 tahun. Sontak aku kaget bukan main, diusia
yang masih belia seperti itu, aku sudah didiagnosa menderita kelainan pada
tulang belakangku, suatu kelainan yang dulu pernah kupelajari pada saat aku
duduk dibangku kelas 4 SD, namun aku masih belum begitu paham tentang kelainan
tersebut, karena yang dijelaskan di sekolah hanya sekilas saja. Tapi aku gak
mau menunjukkan ke amih bagaimana perasaanku pada saat itu. Aku berusaha
biasa-biasa saja, seolah aku gak kenapa-napa.Untuk meyakinkan diagnosanya,
akhirnya dokter menyuruhku untuk melakukan foto rontgen.
Pada
hari itu juga, aku dan amih langsung menuju instalasi radiologi untuk melakukan
foto rongten. Di ruang radiologi, aku langsung disuruh melepas semua pakaianku,
sampai kalung, cincin, dan jam tangan yang aku kenakan pun harus dilepas.
Jujur, aku sangat kaget dan takut ketika akan memasuki ke ruangan itu, karena
aku baru pertama kali masuk ke ruang radiologi, jadi perasaan was-was selalu
menyelimuti hatiku mulai dari awal masuk ruangan sampai selesai punggungku
difoto. Pokoknya waktu itu dag dig dug ser banget deh rasaannya. Hehee. Setelah
melepas semua yang menempel pada tubuhku, mulai deh punggung aku di foto dengan
6 gaya yang berbeda. Udah kaya model ya punggungku. Hehee.. Singkat cerita,
setelah punggungku difoto, beberapa hari kemudian aku langsung balik lagi ke
dokter yang waktu itu memeriksaku, dan dokter langsung melihat hasil rontgenku dan juga memperlihatkannya padaku dan juga amih.
Pada saat itu aku dan amih kaget melihat tulang belakangku meliuk-liuk
membentuk huruf S. Setelah dokter melihat hasil rontgenku, dokter langsung
menyimpulkan bahwa aku menderita skoliosis. Dalam hati aku bertanya-tanya kok
bisa ya tulang belakangku meliuk-liuk seperti itu? Lalu apa itu skoliosis?
Meski dulu aku sempat mempelajarinya, namun aku masih belum begitu paham tentang kelainan scoliosis tersebut. Seolah mendengar isi hatiku, tiba-tiba amih molontarkan pertanyaan yang sama
dengan pertanyaan hatiku pada dokter. Bukannya menjawab dengan lugas, dokternya
malah balik bertanya pada kami, “dulunya pernah jatuh ga?”. Hmmm ternyata
dokternya pun belum bisa memastikan penyebab tulang belakangku dapat
meliuk-liuk seperti itu. Dokter hanya mengatakan bahwa hal itu dapat terjadi
dengan berbagai macam dugaan, bisa karena posisi duduk yang salah, karena waktu
kecilnya pernah jatuh, karena terlalu sering membawa beban terlalu berat sebelah
dan banyak lagi perkiraan-perkiraan yang lainnya.
Pada
saat itu, dokternya pun tak menjelaskan lebih detail tentang skoliosis. Beliau bilang kalau skoliosis itu adalah kelainan pada tulang belakang yang
mengakibatkan tulang miring kesamping kanan atau kiri. Tapi aku lupa waktu derajat kemiringanku berapa. Yang ku ingat, pada saat itu, dokter langsung
menyarankan aku untuk melakukan operasi. Waw, aku langsung kaget hampir mati.
Belum hilang perasaan kaget setelah diagnosa tadi, sekarang aku harus merasakan
kaget yang tak kalah luar biasanya lagi setelah mendengar saran dokter barusan.
Dalam hati, aku berkata kalau aku gak mau di operasi, selain biayanya yang
selangit, resiko operasinya juga gak kalah nyeremin. Karena tetangga aku pernah
punya pengalaman yang gak enak setelah menjalankan operasi, tapi dia operasi
kaki. Bukannya sembuh, eh kakinya malah jadi pincang sebelah. Aku gak mau
nasibku seperti dia. Dalam hati sebenarnya ingin sekali menangis dan berteriak
ke mereka kalau aku gak mau di operasi. Tapi lagi-lagi aku berusaha tenang di
depan amih dan sang dokter, aku gak mau terlihat cengeng di depan mereka atau
siapa pun. Mungkin karena amih juga gak mau aku harus menjalankan operasi,
akhirnya amih bertanya pada dokter apakah ada alternatif lain selain operasi.
Dan dokternya pun bilang, kalau gak mau di operasi, alternatif lainnya aku
disarankan untuk memakai brace yang waktu itu harganya berjuta-juta. Hmm jujur
kalau dari keluarga aku pribadi, gak akan mampu untuk beli brace itu. Selain
itu, bracenya harus digunakan selama 23 jam, hanya dilepas pada saat mandi. Pasti
sangat menyiksa. Selain menyiksa fisikku, pemakaian brace itu pasti juga akan
menyiksa batinku, karena orang-orang yang tak tahu tentang keadaanku, pasti
akan menganggap aku manusia robot. Hmmmmm…. ngebayanginnya aja aku ga kuat,
apalagi kalau aku harus benar-benar menggunakan brace tesebut. Namun, dokter
memberikan alternatif ke2 selain memakai brace, yaitu berenang. Akhirnya aku
dan keluargaku memutuskan untuk melakukan renang saja secara rutin setiap 1
minggu sekali dan juga mencoba pengobatan-pengobatan alternatif kesana kemari
dengan harapan mudah-mudahan aku bisa sembuh dari skoli ku ini tanpa harus
melakukan operasi yang super duper nyeremin itu.
Bersambung bagian 2



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
suka