Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/cara-membuat-readmore-otomatis-di-blog.html#ixzz2MUKihpy6

Pages

Minggu, 25 Desember 2011

Berbeda Itu Istimewa (Part 1)


Awal perkenalanku dengan skoliosis

“Chi, kok pundaknya miring sebelah deh?”. Itulah kata-kata yang terlontar dari bibir seorang gadis remaja yang tak lain adalah kakak sepupuku sendiri. Kata-kata itu secara spontan keluar dari mulutnya ketika ia melihat ada perbedaan yang menonjol pada pundakku pada saat aku sedang bermain dengannya dan juga adik ku beserta sepupu2ku yang lainnya. Setelah mendengar pertanyaan sepupuku itu, aku pun kaget dan gak percaya. Dalam hati aku pun bertanya “masa sih?”. Sontak aku pun langsung bilang pada ibu. Karena ibuku tak tahu harus berbuat apa, akhirnya ibu menyuruhku untuk bilang pada amih (tante) ku. Setelah bilang amih, akhirnya amih berinisiatif untuk membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku.

Selang beberapa hari, aku dan amih berkunjung ke rumah sakit Fatmawati untuk melakukan kontrol. Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya namaku dipanggil juga untuk segera masuk ke ruang dokter. Didalam ruangan itu, sudah ada dokter yang sudah siap memeriksaku. Karena dokter yang memeriksaku lumayan ganteng & baik banget, yang tadinya aku takut masuk ruangan itu, tiba-tiba rasa takutku jadi hilang deh. Hehee.. Setelah amih menceritakan apa yang terjadi padaku, kemudian dokter langsung menyuruhku berdiri dan membungkuk untuk memeriksa punggungku. Kemudian dokter pun langsung memeriksa punggungku menggunakan sebuat alat yang aku pun tak tahu apa nama alat itu. Setelah dilakukan pemeriksaan, akhirnya dokter mendiagnosaku bahwa terdapat kelainan pada tulang belakangku. Dokter bilang tulang belakangku miring kesamping. Pada saat dokter bicara seperti itu, aku kaget setengah mati, jantungku serasa mau copot. Pada saat itu usiaku masih sangat belia, yaitu masih berumur 13 tahun. Sontak aku kaget bukan main, diusia yang masih belia seperti itu, aku sudah didiagnosa menderita kelainan pada tulang belakangku, suatu kelainan yang dulu pernah kupelajari pada saat aku duduk dibangku kelas 4 SD, namun aku masih belum begitu paham tentang kelainan tersebut, karena yang dijelaskan di sekolah hanya sekilas saja. Tapi aku gak mau menunjukkan ke amih bagaimana perasaanku pada saat itu. Aku berusaha biasa-biasa saja, seolah aku gak kenapa-napa.Untuk meyakinkan diagnosanya, akhirnya dokter menyuruhku untuk melakukan foto rontgen.

Pada hari itu juga, aku dan amih langsung menuju instalasi radiologi untuk melakukan foto rongten. Di ruang radiologi, aku langsung disuruh melepas semua pakaianku, sampai kalung, cincin, dan jam tangan yang aku kenakan pun harus dilepas. Jujur, aku sangat kaget dan takut ketika akan memasuki ke ruangan itu, karena aku baru pertama kali masuk ke ruang radiologi, jadi perasaan was-was selalu menyelimuti hatiku mulai dari awal masuk ruangan sampai selesai punggungku difoto. Pokoknya waktu itu dag dig dug ser banget deh rasaannya. Hehee. Setelah melepas semua yang menempel pada tubuhku, mulai deh punggung aku di foto dengan 6 gaya yang berbeda. Udah kaya model ya punggungku. Hehee.. Singkat cerita, setelah punggungku difoto, beberapa hari kemudian aku langsung balik lagi ke dokter yang waktu itu memeriksaku, dan dokter langsung melihat hasil rontgenku dan juga memperlihatkannya padaku dan juga amih. Pada saat itu aku dan amih kaget melihat tulang belakangku meliuk-liuk membentuk huruf S. Setelah dokter melihat hasil rontgenku, dokter langsung menyimpulkan bahwa aku menderita skoliosis. Dalam hati aku bertanya-tanya kok bisa ya tulang belakangku meliuk-liuk seperti itu? Lalu apa itu skoliosis? Meski dulu aku sempat mempelajarinya, namun aku masih belum begitu paham tentang kelainan scoliosis tersebut. Seolah mendengar isi hatiku, tiba-tiba amih molontarkan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan hatiku pada dokter. Bukannya menjawab dengan lugas, dokternya malah balik bertanya pada kami, “dulunya pernah jatuh ga?”. Hmmm ternyata dokternya pun belum bisa memastikan penyebab tulang belakangku dapat meliuk-liuk seperti itu. Dokter hanya mengatakan bahwa hal itu dapat terjadi dengan berbagai macam dugaan, bisa karena posisi duduk yang salah, karena waktu kecilnya pernah jatuh, karena terlalu sering membawa beban terlalu berat sebelah dan banyak lagi perkiraan-perkiraan yang lainnya.

Pada saat itu, dokternya pun tak menjelaskan lebih detail tentang skoliosis. Beliau bilang kalau skoliosis itu adalah kelainan pada tulang belakang yang mengakibatkan tulang miring kesamping kanan atau kiri. Tapi aku lupa waktu derajat kemiringanku berapa. Yang ku ingat, pada saat itu, dokter langsung menyarankan aku untuk melakukan operasi. Waw, aku langsung kaget hampir mati. Belum hilang perasaan kaget setelah diagnosa tadi, sekarang aku harus merasakan kaget yang tak kalah luar biasanya lagi setelah mendengar saran dokter barusan. Dalam hati, aku berkata kalau aku gak mau di operasi, selain biayanya yang selangit, resiko operasinya juga gak kalah nyeremin. Karena tetangga aku pernah punya pengalaman yang gak enak setelah menjalankan operasi, tapi dia operasi kaki. Bukannya sembuh, eh kakinya malah jadi pincang sebelah. Aku gak mau nasibku seperti dia. Dalam hati sebenarnya ingin sekali menangis dan berteriak ke mereka kalau aku gak mau di operasi. Tapi lagi-lagi aku berusaha tenang di depan amih dan sang dokter, aku gak mau terlihat cengeng di depan mereka atau siapa pun. Mungkin karena amih juga gak mau aku harus menjalankan operasi, akhirnya amih bertanya pada dokter apakah ada alternatif lain selain operasi. Dan dokternya pun bilang, kalau gak mau di operasi, alternatif lainnya aku disarankan untuk memakai brace yang waktu itu harganya berjuta-juta. Hmm jujur kalau dari keluarga aku pribadi, gak akan mampu untuk beli brace itu. Selain itu, bracenya harus digunakan selama 23 jam, hanya dilepas pada saat mandi. Pasti sangat menyiksa. Selain menyiksa fisikku, pemakaian brace itu pasti juga akan menyiksa batinku, karena orang-orang yang tak tahu tentang keadaanku, pasti akan menganggap aku manusia robot. Hmmmmm…. ngebayanginnya aja aku ga kuat, apalagi kalau aku harus benar-benar menggunakan brace tesebut. Namun, dokter memberikan alternatif ke2 selain memakai brace, yaitu berenang. Akhirnya aku dan keluargaku memutuskan untuk melakukan renang saja secara rutin setiap 1 minggu sekali dan juga mencoba pengobatan-pengobatan alternatif kesana kemari dengan harapan mudah-mudahan aku bisa sembuh dari skoli ku ini tanpa harus melakukan operasi yang super duper nyeremin itu.

 Bersambung bagian 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suka

Love is...
© Rumah Aksara Richita - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace