Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/cara-membuat-readmore-otomatis-di-blog.html#ixzz2MUKihpy6

Pages

Minggu, 25 Desember 2011

Berbeda Itu Istimewa (Part 2)


Hari-hariku bersama si skoli

Setelah divonis sebagai penderita skoliosis, hari-hariku tak ada yang berubah, aku tetap bermain bersama teman-temanku tanpa mempedulikan skoliku. Mungkin karena waktu itu tulang punggungku belum begitu parah bengkoknya, jadi belum terlalu kelihatana, sehingga aku belum mempermasalahkan masalah skoliku. Tapi ya jujur aja, rasa minder itu pasti ada, apalagi pada dasarnya aku anaknya pemalu, pendiam dan ga PD-an. Mungkin karena postur tubuh aku yang tingginya tak sesuai dengan usiaku pada saat itu, jadi aku merasa minder jika harus berhadapan dengan teman-teman sebayaku. Bahkan tinggi badanku kalah dengan tinggi badan adikku, padalah adikku usianya 2 tahun dibawah aku.

Kemudian aku dan keluargaku mulai sibuk mencari pengobatan alternatif kesana kemari tanpa henti dengan harapan semoga saja skoliku bisa sembuh tanpa harus di operasi. Dengan bantuan informasi dari beberapa tetangga dan keluarga, akhirnya kami mengetahui ada pengobatan alternatif di daerah serua yang tak jauh dari daerah rumahku. Nama pengobatannya adalah Eyang Agung. Beliau terkenal dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang sudah parah. Akhirnya aku dan ibuku memutuskan untuk mencoba pengobatan alternatif tersebut. Setiap seminggu sekali, ibuku selalu setia mengantarkan aku untuk pergi berobat kesana. Disana, tahap pengobatannya ada 2 tahap. Tahap pertama, kaki aku harus di olesi minyak sembari di pijat-pijat oleh terapis yang ada disitu. Setelah itu, aku harus menunggu antrian lagi untuk melakukan tahap yang kedua. Di tahap yang kedua ini, giliran pundak dan punggung aku di pijat-pijat oleh sang pemilik pengobatan atau eyang agungnya sendiri. Setelah kurang lebih 2 tahun aku berobat di pengobatan alternatif tersebut, aku ga ngerasain adanya perubahan yang berarti pada tulang punggungku. Selain itu, di pengobatan alternatif tersebut aku diharuskan meminum ramuan yang terbuat dari jahe yang sudah dihaluskan, dan ramuan itu harus aku minum setiap malam. Hmmm rasanya ga enak banget, udah pahit, terus perutku juga terasa panas setelah meminum ramuah jahe tersebut. Karena menurut amih, jahe itu ga bagus untuk rahim, aku pun memutuskan berhenti meminum ramuan jahe tersebut.  Dan pada akhirnya aku dan ibuku pun memutuskan untuk berhenti melakukan pengobatan tersebut, karena kami pikir percuma saja kalau memang ga ada hasilnya.

Lalu aku mencoba pengobatan-pengobatan alternatif lainnya. Mulai dari yang di pijat-pijat menggunakan tangan, batu giok (terapi ceragem master), sampai meminum air putih yang sudah dibacakan do’a. Mulai dari yang didalam kota sampai keluar kota. Mulai dari yang biayanya cuma-cuma, sukarela, sampai yang biayanya lumayan mahal (menurutku). Ada salah satu pengobatan alternatif yang membuat aku sangat takut, lokasinya di cirebon, tapi aku ga tahu apa nama tempat pengobatan alternatif itu. Ceritanya, ketika aku lulus SMA, aku di bawa sama tante ku ke cirebon untuk mencoba pengobatan alternatif di sana. Disana, pengobatannya ga jauh berbeda dengan pengobatan-pengobatan sebelumnya, yaitu di pijat. Tapi yang bikin aku kaget, ternyata di pijatnya harus lepas sebagian baju sama pakaian dalam aku. Kalau yang ngelakuin terapinya perempuan sih ga apa-apa deh, tapi ini laki-laki, mas-mas lagi. Huuaaaa tidaaaaakkkkk. Tapi demi menghargai usaha tanteku yang sudah capek-capek membawaku ke tempat alternatif itu, akhirnya aku mau.  Cara pemijatannya, sebelum di pijat, punggungku di tempelin handuk yang sudah direndam di air panas. Hmmmm ga usah ditanya deh gimana rasanya. Rasanya panaaaaasssss bangeeetttt. Aku aja ga ngerti kenapa mas-mas yang ngobatin aku kok tangannya ga berasa panas ya, padahal tangannya di celupin ke baskom yang berisi air panas. Air PANAS loh, bukan air hangat. Hmmmm…… Tapi yang bikin aku lebih takut lagi, pas di pijatnya sakit banget. Mungkin karena terapisnya laki-laki kali ya, jadi tenaga super extra. Padahal kan yang dipijatnya perempuan. Ga punya perasaan banget sih tu mas-mas. Huh! Karena kapok dan ga ingin melakukan pengobatan itu lagi, akhirnya aku bilang sama tanteku kalau aku ga mau ngelanjutin terapinya. Akhirnya cuma satu kali datang, aku langsung kapok dan ga mau balik lag. Untung aja tanteku mau menuruti keinginanku, akhirnya kita mutusin untuk balik lagi ke Jakarta.

Pengobatan terakhir yang aku jalanin, yaitu pengobatan Tungmei Body Repair. Aku dapat info pengobatan alternatif itu dari internet. Karena penasaran, akhirnya aku coba. Setelah coba pertama kali, ternyata enak juga, enak banget malah. Abis terapi itu, pegel-pegel nya langsung ilang, meskipun seseknya masih ada sih. Tapi agak sedikit sakit sih, cuma masih bisa di tahan. Karena terapisnya ibu-ibu, jadi ya kalau aku udah ngerasa sakit, aku suruh bilang, supaya dia memperlahan pijatannya. Tapi karena biayanya yang lumayan mahal setiap kali pertemuan, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti melakukan pengobatan tersebut.

Hari-hariku memang agak sedikit berbeda setelah beberapa tahun terakhir ini aku merasa bahwa kelainanku sudah bertambah parah, tepatnya ketika SMA. Sepertinya tulangku semakin bengkok. Hal itu terasa karena aku sudah merasa tak nyaman mengenakan baju yang biasa aku pakai, baik itu baju sekolah maupun baju main biasa. Aku jadi merasa sangat minder, pada dasarnya memang aku anaknya pemalu sih. Tapi setelah aku tahu bahwa ada kelainan pada tubuhku semakin bertambah parah, aku jadi merasa makin minder & malu untuk berhadapan dengan orang lain. Tapi aku bersyukur, lingkungan sekitar rumahku tak mempermasalahkan kelainan yang pada tulang belakangku ini. Memang mereka tidak tahu semua, tapi diantara mereka yang mengetahui, mereka bersikap biasa saja dan bisa menerima aku apa adanya. Alhamdulillah, aku tak pernah mendengar para tetanggaku mencemoohku, apalagi dengan membawa-bawa kelainanku ini. Justru diantara mereka yang tahu, mereka malah memberikan perhatian yang lebih kepadaku. Ada juga beberapa diantara mereka yang memberikan informasi pengobatan alternatif yang mungkin dapat menyembuhkan skoliku ini. Tapi walaupun mereka tidak mempermasalahkan skoliku ini, aku tetap saja minder jika bertemu dengan mereka. Aku pun pernah mengalami pengalaman yang sangat tidak mengenakan ketika aku melayani pembeli yang membeli di warung milik orang tuaku. Pada saat itu, ada seorang nenek-nenek yang usianya belum terlalu tua membeli minyak tanah di warung milik orang tuaku, dan ketika aku melayaninya, otomatis aku melayani dengan posisi yang membungkuk karena posisi drum minyak tanahnya lebih rendah. Alhasil nenek itupun melihat kelainan yang ada di tulang punggungku. Kemudian nenek itupun bertanya “punggungnya kenapa? Kok nonjol?” sontak aku pun kaget setengah mati. Aku hanya bisa tersenyum ketika nenek itu bertanya demikian. Sejak saat itu, aku gak mau melayani pembeli yang membeli minyak tanah. akhirnya sejak saat itu, setiap ada yang beli minyak tanah, aku langsung memanggil ibuku. Untungnya aku memiliki ibu yang sangat sangat pengertian. Senaaannngggnyaaaa memiliki ibu seperti beliau :)  

Berbeda dengan lingkungan rumahku, kalau di lingkungan tempat aku sekolah tidak ada yang tahu satu pun tentang skoliku ini. Baik mulai dari teman SD, SMP maunpun SMA. Entah apa jadinya jika mereka tahu tentang skoliku ini. Tapi ketika aku kuliah, ada beberapa temanku yang tahu tentang skoliku ini. Itu pun mereka tahu tanpa disengaja. Mereka tahu tentang skoliku, ketika aku lagi wudhu di musholah kampus. Pas aku membungkuk, temanku ada yang usil buka kerudung aku. Terus teman yang mengantri di belakangku melihat punggungku yang sebelah kanan lebih menonjol dari pada punggung sebelah kiri. Karena penasaran, akhirnya dia menanyakan tentang keanehan yang ada pada punggungku itu. Tapi aku hanya tersenyum dan menjawab ala kadarnya. Karena percuma saja kalau aku beri tahu panjang lebar, toh ia juga ga akan mengerti. Untungnya temanku itu menerima jawabanku yang ala kadarnya tanpa menyambung dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

Ketika aku lulus SMA, aku pernah gabung di suatu komunitas fans club gitu, nama fans clubnya Pemuja Mahadewi. Dari situ, aku jadi mengenal lebih banyak lagi teman-teman baru. Entah mengapa, ketika pertama kali aku bertemu dengan mereka, perasaanku biasa aja. Ga ada perasaan malu atau apa. Tapi kalau pendiamnya sih tetep. Selalu mereka yang memulai pembicaraan Hehee.. Mungkin karena keinginanku yang sudah menggebu karena ingin bertemu dengan artis idolaku, jadi aku lupa sama rasa malunya. Hohoo.. Waktu pertama kali bertemu dan kenal sama temen-temen fans club aku itu, perasaannya seperti bertemu teman lama yang udah lama ga bertemu, terus bertemu lagi. Aku sangat bersyukur dapat bertemu dan kenal dengan mereka. Karena mereka dapat menerima aku apa adanya tanpaa mempedulikan perbedaan fisik yang ada pada diriku. Dulu, mereka tak tahu tentang kelainanku ini dan aku berusaha menutupi punggungku dengan mengenakan pakaian yang cukup besar agar kelainan ku tak kelihatan.  Karena jika mereka tahu, aku takut mereka akan menjauh dariku dan ga mau lagi berteman dengan manusia cacat seperti aku. Karena aku ga mau kehilangan teman, sahabat, sekaligus kerabat seperti mereka yang sudah mengajarkan aku tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya. Mereka juga adalah obat di kala semangatku tengah sekarat. Jika aku sedang berada di tengah-tengah mereka, perasaanku yang awalnya bad mood, jadi berubah happy. Pokoknya perasaannya seneeeeennngggg aja kalau lagi ngumpul sama mereka. Tapi, dengan berjalannya waktu, dan dengan pencerahan dari buku yang menceritakan kisah para skolioser (sebutan untuk penderita scoliosis), akhirnya aku memberanikan diri untuk bilang ke beberapa sahabat PM ku dan sahabat-sahabatku yang lain, meskipun perasaan was-was itu masih ada. Karena aku berpikir, toh kelainanku ini bukanlah aib yang harus aku tutup-tutupi. Tapi maksud aku memberitahukan kelainanku ini kepada mereka, bukan karena ingin di kasihani. Karena aku bukanlah perempuan lemah yang harus di kasihani.  Aku hanya ingin mereka tahu tentang kelainanku ini, karena aku ingin ber. Aku ga nyangka sama respon yang mereka berikan setelah tahu tentang kelainanku ini. Ternyata respon mereka sangat positif. Mereka masih mau menerimaku sebagai teman mereka, meski mereka sudah tahu kondisi fisikku yang sebenarnya. Justru mereka malah memberikan semangat untukku. Bahkan ada 1 sahabat PM ku yang sudah aku anggap seperti kk ku sendiri, ia bersedia untuk mengantarkan aku kontrol pertama kali ke rumah sakit, setelah bertahun-tahun tidak melakukan kontrol. Dia begitu baik padaku, tapi aku sudah terlalu sering merepotkan dia. Itu yang membuat aku merasa nyaman memiliki sahabat sekaligus kerabat seperti mereka. selain kehangatan yang selalu mereka hadirkan setiap kali kami bercengkrama, namun perhatian dan kepedulian tak henti mereka berikan. Mungkin menurut mereka hal ini sangatlah biasa, tapi menurut aku ini adalah hal yang sangat luar biasa. Aku jadi bisa merasakan bagaimana diperhatikan oleh figur seorang kakak, apalagi kakak perempuan. Impian yang sudah dari dulu aku nanti-nantikan, memiliki kakak perempuan yang sayang dan perhatian.

Selain melakukan pengobatan alternatif kesana kemari, aku juga melakukan renang secara rutin setiap seminggu sekali. Bersama kakak, adik, sepupu dan ponakanku, aku rutin melakukan renang di beberapa tempat yang berbeda. Selain ibu, mereka termasuk sosok-sosok yang setia menemaniku dalam berusaha untuk bisa lepas dari skoliku tanpa harus di opersasi. Waktu itu skoliku masih belum terlalu parah, masih ga begitu keliatan, jadi aku ga begitu malu harus renang dihadapan orang-orang normal. Meskipun sebenarnya rasa malu itu pasti ada, tapi ga sebesar seperti sekarang, ketika derajat skoliku sudah semakin besar. Tapi semenjak aku memutuskan untuk mengenakan kerudung, tepatnya ketika aku kelas 2 SMA, aku sudah tidak aktif lagi melakukan renang.

Bersambung bagian 3

1 komentar:

suka

Love is...
© Rumah Aksara Richita - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace