Senja. Begitu aku memanggilnya. Sosok gadis Bali yang ayu. Dengan balutan pakaian sederhana. Ditambah dengan hiasan senyum manis yang selalu terlukis diwajahnya. Membuat mata hatiku terperangkap oleh pesonanya.
Senyuman. Itulah balasan yang ia berikan. Setiap kali aku menyapanya disebuah pantai paling ternama di Bali, Kuta. Sebuah tempat yang mempertemukan aku dan Senja. Disanalah aku mengenal sosok gadis yang kuat dan selalu semangat dalam menjalani hidup dengan ketidaksempurnaan yang dimilikinya.
Disuatu senja. Ketika aku tengah asyik menikmati indahnya langit jingga di pantai Kuta. Tiba-tiba datang dirinya. Duduk di atas pasir pantai. Tak jauh dari posisi aku berada. Ia asyik menulis di atas sebuah buku berukuran sedang berwarna biru muda. Sambil sesekali menatap lepas langit jingga. Dengan mengulum senyum yang membuat wajahnya seindah senja. Aku rasa buku itu adalah diary. Entah apa yang ia torehkan di atas kertasnya. Yang pasti, ia tampak asyik sendiri. Tanpa memedulikan bahwa ada seseorang selain dia disana, yaitu aku.
Satu hari aku bertemu dengannya, tidak membuat rasa penasaranku tergelitik. Aku tetap tak acuh terhadapnya. Namun, ku akui senyuman itu telah membuat hati ini meleleh. Baru kali itu aku melihat senyum tulus terbit dari wajah seorang wanita, selain Mamah. Teman-teman wanitaku tersenyum hanya jika ada maunya. Tidak berbeda dengan Gita, mantan kekasihku. Yang hanya tersenyum merayu saat ingin dibelikan sesuatu.
Hari demi hari, kuhabiskan sore di pantai Kuta. Hanya untuk dapat menatap indahnya senja. Dan setiap kali aku mendatangi pantai Kuta, gadis itu selalu ada. Masih tetap dengan kebiasaannya. Namun hari itu, ia tampak berbeda. Wajahnya terlihat murung. Seperti sedang ada masalah. Ia menulis seraya menatap jingga pada senja. Namun kali itu dengan tatapan yang kosong. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Namun sulit untuk mengutarakannya.
Rasa penasaranku akhirnya tergelitik juga. Aku menghampirinya dan menyapa dengan basa-basi sekenanya.
"Hai, aku Reifan. Tapi biasa dipanggil Rei" Kataku memulai percakapan.
Namun Senja hanya diam dan tersenyum menatap wajahku.
"Kamu... Suka senja juga ya? Habis hampir setiap senja aku kesini, kamu selalu ada".
Aku terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Namun respon Senja hanya diam dengan menyunggingkan senyuman. Saat aku menanyakan namanya, ia langsung beranjak pergi.
"Cewek yang aneh" Gumamku dalam hati.
Keesokan sore, tidak kutemui lagi sosok Senja. Entah ia kemana. Hatiku mulai berbisik "Apa karena pertanyaanku kemarin ya, sampai-sampai dia nggak mau datang kesini lagi".
Sudah satu minggu aku tidak dapat menatap wajahnya. Wajah dengan senyuman semanis senja. Tanpa sadar, ada rasa rindu tumbuh didalam hatiku. Rindu akan kehadiran sosok Senja. Meski hanya kebisuan yang aku dapatkan darinya. Namun senyuman itu yang membuat rindu ini tak dapat dimusnahkan. Senyuman yang memberi sejuk pada jiwa yang gersang. Hatiku merasa kehilangan.
Dua minggu berlalu. Akhirnya sosok itu kembali hadir dihadapanku. Sosok yang sangat aku rindu. Tidak seperti biasanya. Waktu itu aku lihat ia sudah lebih dulu berada di pantai Kuta. Padahal sebelumya, selalu aku yang nomor satu berada disana. Beberapa menit sebelum senja menampakkan wajahnya.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya.
"Hai, kamu kemana aja? Kok baru kelihatan lagi sih?". Kataku.
"Oh iya. Aku panggil kamu Senja aja ya. Habis kamu nggak mau ngasih tahu nama kamu sih. Aku kan jadi bingung manggilnya. Gmn? Boleh nggak aku panggil Senja?".
Lagi dan lagi. Ia hanya mampu terdiam membisu seraya mengulum senyum manisnya. Sejujurnya aku sangat kesal atas sikapnya itu. Ingin rasanya meninggalkan dia dan tidak mengacuhkannya. Tapi aku tidak bisa. Rasa penasaran dihati ini terlalu kuat untuk mengalahkan rasa kesalku.
Senja mencoba menulis sesuatu diatas kertasnya. Kemudian ia menyodorkan tulisan itu kehadapanku dengan maksud agar aku dapat membacanya. Setelah aku baca, baru aku tahu bahwa Senja tak dapat bicara. Melalui tulisan, ia bercerita bahwa dua minggu yang lalu, ayahnya telah dipanggil Sang pemilik kehidupan. Itulah yang menyebabkan ia harus absen menatap senja. Ia harus mengurus pemakaman dan pengajian untuk almarhum ayahnya. Serta kedua adiknya yang masih berusia tanggung. Ibunya telah lebih dulu pergi menghadap illahi. Beberapa saat setelah melahirkan adik ke-2 nya. Membuat Senja harus ekstra kerja keras mengurus semua. Sendirian. Karena kini, ayahnya pun telah pergi menyusul ibunya.
Senja, kamu memang tidak sempurna. Namun, justru ketidaksempurnaanmu yang membuat dirimu tampak sempurna. Kekuranganmu adalah kelebihan dimataku. Ditambah dengan senyuman semanis senja yang selalu terbit diwajah cantikmu. Hingga membuat kamu terlihat mempesona dimata hatiku. Aku cinta kamu Senja. Cinta akan kekurangan yang kamu miliki. Kesederhanaan yang menghiasi diri. Serta senyuman semanis senja yang membuat dirimu istimewa dihati ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
suka