Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/cara-membuat-readmore-otomatis-di-blog.html#ixzz2MUKihpy6

Pages

Kamis, 11 Oktober 2012

Cinta Semu

      Saat itu. Saat pertama kali pandangan mata kita saling beradu. Saat kau hadir menjadi dewa penolong-ku. Ketika segelintir penghuni bumi enggan menyapa kehadiranku. Aku sangat bahagia. Seolah telah menemukan surga dunia yang selama ini luput dari pandangan mata. Saat itu pula, mulai tumbuh rasa dihatiku. Rasa rindu yang menggebu. Saat satu hari saja aku tidak dapat menatap wajahmu. Aku tidak mengerti. Perasaan apakah yang kini tengah bersemi ditaman hati ini. Cintakah? Atau? Hmm, entahlah. Tapi yang pasti, aku sangat bahagia. Setiap kali mata ini menangkap sosok yang kuanggap malaikat.
      Perhatian darimu, tidak hanya datang satu atau dua kali. Ia datang berkali-kali. Dalam waktu dan dengan cara yang tidak terduga. Meskipun mungkin di matamu, itu hanyalah perhatian kecil. Aku tidak akan pernah melupakan perhatian itu. Karena perhatian kecilmu, berarti besar dalam hidupku. Hingga pada suatu ketika, entah mengapa, pikiranku menyimpulkan bahwa perhatianmu selama ini adalah tanda cintamu padaku.
     Namun ternyata aku salah. Semua perhatian itu hanyalah semu belaka. Kamu menganggap aku hanya sebagai teman biasa. Tidak lebih dari itu.
     Waktu itu. Disebuah warung bakso pinggir jalan. Depan kampus FKUI Salemba. Seusai kita mengikuti mata kuliah Pengantar Manajemen Keuangan Rumah Sakit. Ketika tanpa sengaja, aku melihat foto seorang wanita terpampang rapih di dalam dompet kulit hitam-mu, saat kamu tengah mengambil beberapa lembar uang untuk membayar dua mangkuk bakso dan minuman yang kita pesan.
"Itu foto siapa, Ga?" Tanyaku penuh tanda tanya seraya menunjuk dompetmu yang tengah terbuka.
"Yang mana?" Jawabmu balik bertanya.
"Yang itu. Foto cewek cantik. Itu adikmu ya?" Kataku sambil tetap asyik melahap bulatan bakso pak Dayat, tukang bakso langganan kita.
"Oh ini. Bukan. Ini bukan adikku. Ini foto gebetan aku, Ra. Putri namanya. Dia anak FT (baca: Fisioterapi) lho. Aku suka dia pas ospek fakultas, Ra. Waktu pertama kali aku ketemu dan kenal dia. Dia anaknya baik. Ramah pula" Jelasmu panjang lebar. Mendengar pernyataanmu itu, membuat tenggorokan ini tiba-tiba enggan menerima bulatan bakso yang telah aku lumat. Sontak aku terbatuk-batuk. Setitik bulir air pun tidak terasa keluar dari pelupuk mataku. Sakit rasanya saat tersedak. Tapi lebih sakit lagi hati ini. Karena telah menerima goresan luka dari seseorang yang juga telah menumbuhkan benih cinta menjadi bunga, hingga membuat taman hati ini menjadi sangat indah. Saat itu, ingin rasanya aku menumpahkan amarah padamu. Tapi tidak bisa. Karena memang kamu tidak salah. Pikiran inilah yang salah. Karena telah mengartikan perhatianmu sebagai sebuah tanda cinta.
      Baru aku sadari bahwa cintaku selama ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Pupus sudah harapanku, saat kata-kata pahit itu melesat masuk kedalam telingaku hingga membuat remuk seluruh hatiku. Aku hanya dapat berharap dalam sujudku padaNya. Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku. Semoga kelak akan datang keajaiban. Membukakan mata hatimu. Hingga akhirnya kamu pun tahu bahwa aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Meski kamu tidak akan pernah tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suka

Love is...
© Rumah Aksara Richita - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace